Wedus Arab Bukan Wedus Biasa

REINTERPRESTASI MA’RIFAT BAGI ORANG AWAM DAN APLIKASINYA



A.    PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluq yang diberi akal sempurna, Dengan sempurnanya akal seharusnya manusia bisa membedakan yang mana yang baik dan buruk untuk dirinya. Untuk dapat membedakan itu manusia harus mengenali siapa dirinya, dan sebelum mengenal dirinya manusia harus lebih dulu mengenal penciptanya yaitu Allah SWT. Dengan mengenal Allah maka kita akan mendapat banyak kebaikan diantaranya adalah peningkatan iman dan taqwa. Disamping itu dengan mengenal Allah akan tumbuh ketenangan, keberkahan dan kehidupan yang baik, dan di akhirat akan dibalas dengan surga Allah.
Akan tetapi masih banyak diantara kita hanya mengenal Allah secara lahiriyah saja. Mengenal Allah atau biasa juga disebut Ma’rifatullah, wajib hukumnya bagi setiaap mukmin, sebab bagaimana biasa dia mengaku bahwa dirinya adalah orang mukmin jika mengenal Tuhannya saja tidak. Lalu untuk apa dia beribadah jika tidak tau siapa yang dia imani.
Makalah ini akan membahas tentang Reinterprestasi Ma’rifatullah dan aplikasinya dalam kehidupan kita.



B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Reinterprestasi Ma’rifat
2.      Jenis-jenis Ma’rifatullah
3.      Pengaplikasian jenis Ma’rifatullah
4.      Hukum mempelajari Ma’rifatullah














C.     PEMBAHASAN
1.      Reinterpretasi Ma’rifatullah.

Dari segi bahasa Ma’rifatullah berasal dari bahasa Arab “arafa, ya’rifu, ‘irfan, ma’rifah’ yang artinya pengetahuan atau pengalaman. Tapi dalam pengucapan lidah orang jawa disebut Ma’rifat[1]
Menurut para Muhaqqiqin (orang-orang yang mendalami ilmu hakikat, Ma’rifatullah diartikan sebagai “ Ketetapan hati mempercayai dzat yang wajib wujud (Allah) yang memiliki segala kesempurnaan” [2]

Para ulama mengartikan ma’rifat ini sebagai sebuah ilmu. Menurut mereka semua ilmu adalah Ma’rifat dan semua Ma’rifat adalah ilmu. Dan setiap orang yang mempunyai ilmu disebut ahli Ma’rifat. Tapi dikalangan para Sufi Ma’rifat ini sebutan untuk orang-orang yang benar-benar mengenal sifat-sifat dan asma-asma Allah, selalu berperilaku baik di jalan Allah, selalu mensucikan hati dari sifat-sifat dengki, iri, takabur dan lainnya, meninggalkan kenikmatan duniawi yang hanya sementara dan menikmati kedekatanya dengan Allah, senantiasa merasakan kehadiran Allah didalam hati, ketika dia tidak lagi merasakan kegembiraan kecuali karena Allah, ketika rindunya hanya untuk Allah, fikiran, hati, mulut dan perilaku hanya bertujuan untuk Allah dan ketika dia menyadari dia akan kembali kepada Allah semata saat itu orang tersebut disebut Ma’rifatullah.[3]

Abu yazid berkata “Untuk mengetahui Allah, maka cukup bagimu untuk mengetahui bahwa Dia melihatmu. Dan untuk mengetahui ilmu, maka cukup bagimu untuk mengetahui bahwa Dia tidak membutuhkan amalanmu.

Menurut Junaidi makrifat adalah munculnya kebenaran pada hati, seraya terus berhubungan dengan kelembutan-kelembutan cahaya.

Menurut Dzunnun Ma’rifatullah adalah dengan menegaskan kepada hati bahwa Allah selalu mengawasimu, selalu berserah kepada Allah, selalu takut melanggar hukum-hukum Allah.

Menurut imam ghazali oang yang Ma’rifat itu harus mengenal 4 perkara.
1)      Mengenal dirinya yaitu dengan menyadari bahwa diri ini lemah dan hina sehingga kita butuh pertolongan Allah.
2)      Mengenal Tuhan yaitu dengan meyakini bahwa hanya Allah tempat kita kembali, memohon, berlindung dan lainnya.
3)      Mengenal dunia yaitu dengan menyadari bahwa dunia ini hanya tempat kita singgah, dan apa yang kita miliki di dunia ini tidak akan abadi, sehingga kita tidak terlena dengan nikmat dunia.
4)      Dan mengenal akhirat yaitu dengan menyadari bahwa akhirat itu kekal, disana kita akan hidup selamanya.
Jika kita sudah mengel diri dan Tuhan, dunia dan akhirat maka akan timbul Ma’rifatullah.[4]
Ma’rifatullah dapat dikatakan adalah tujuan utama para sufi. Saat mereka sudah sampai pada Ma’rifatullah dan Allah telah mebukakan pintu baginya maka dia akan mendapat ketenagan dalam Ma’rifat itu, sebab dia akan merasakan nikmat rohani yang tidak pernah ia rasaksan sebelumnya. Sehingga dia akan menjadi hamba yang selalu haus untuk bertaqwa, memperbanyak amalan dan selelu mendekatkan diri kepada Allah.
Orang yang sudah pada titik Ma’rifatnya maka dipastikan dia sangat dekat dengan Allah dan akan mampu memandang Allah dengan Ma’rifatnya.
2.      Jenis-jenis Ma’rifatullah.

Ada 4 yang dapat dicapai manusia dan 1 yang tidak dapat dicapai.

a.       Ma’rifatul asma (mengenal asma-asma Allah)
Seperti sabda nabi:
Allah memiliki sembilan puluh sembilan asma yang mengatakan bahwa Allah Maha sempurna, bila berdoa hendaklah disertai menyebut asma-Nya dan Allah sangat senang bila disebut asma-Nya, barang siapa hafal (Asma-ul Husna) niscaya masuk surga.



Artinya: “Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

b.      Ma’rifatus sifat (mengenal sifat-sifat Allah)
Dengan mendalami makna Asma-ul Husna orang menjadi mengenal sifat-sifat Allah, mengenal sifat-sifat kesempurnaan Allah. Insan hendaknya berakhlak dengan sifat keutamaan-Nya tentu saja dalam batas kemampuan kemanusiaanya

c.       Ma’rifatul af’al (mengenal karya-karya Allah)
Karya Allah terbentang luas dijagad raya (langit, bumi, matahari, laut dan masih banyak). Organ dalam tubuh manusia (jantung, ginjal, mata, kaki dan lainnya). Bukti kebesaran Allah tiada taranya.

d.      Ma’rifatul iradah (mengenal kehendak Allah)
Mengetahui apa maksud Allah menciptakan makhluqnya, untuk apa Allah menciptakan alam dunia, apa yang diciptakan Allah tidak ada yang sia-sia jadi kita harus mengenalinya.

e.       Ma’rifatudz dzat (mengenal dzat Allah)
Ini bagian yang tidak dapat dicapai oleh manusia karena ini adalah hak Allah. Pikiran manusia tidak mampu mencapainya. Dzat Allah Maha Ghaib, Maha Tersembunyi, Maha Tinggi, Maha suci, dan Maha Abadi.[5]

Menurut Dzun nun Ma’rifat itu dibagi menjadi 3
1)      Ma’rifat orang awam yaitu mengenal Allah hanya dari 2 kalimat syahadat
2)      Ma’rifat para ahli ilmu kalam dan filsuf yaitu mengenal keesaan Allah dengan sarana logika dan penalaran.
3)      Ma’rifat para ulama’ dan orang-orang yang dekat dengan Allah (Muqarrabin) yaitu mengenal keesaan Allah dengan sanubari atau qalbu
Menurut Harun Nasution ma’rifat yang pertama dan kedua belum lah yang sesungguhnya (Ma’rifat para sufi) tapi hanya sebetas ilmu. Yang hakiki adalah Ma’rifat yang ketiga . ma’rifat hanya dapat diperoleh oleh kaum sufi. Tuhan memasukkan cahaya pada kalbu pada tiap-tiap sufi.

Karena itu saat Dzun Nun ditanya bagaimana ia memperoleh Ma’rifat ia menjawab “Aku mengenal Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya jika tidak karena Tuhan maka aku tidak akan mengenalnya”
Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa Ma’rifat itu bukan karena
Hasil usaha manusia, tapi bergantung pada kehendak dan rahmat Allah. Ma’rifat hanya diberikan kepada sufi yang sanggup menerimanya.

Ali Abd Al-Adzim menyatakan bahwa kaum sufi sepakat bahwa Ma’rifat yang hakiki hanya bisa didapat dari ilham bukan melalui akal.[6]

3.      Pengaplikasian macam-macam Ma’rifatullah

a)      Dengan menghafal Asmaul Husna
1)      Di dalam dada selalu menggema asma Allah
2)      Bibir selalu menggumamkan asma Allah.
3)      Dimanapun selalu mengingat Allah.
4)      Mulai subur rasa cinta kepada Allah.
   
b)      Mengerti makna dari setiap Asmaul Husna.
1)      Ketika menyebut nama Allah lebih meresap dalam hati.
2)      Mengerti kegunaan nama Allah.
3)      Ketika berdo’a menyertakan nama Allah dengan tepat.
4)      Menyadari kebesaran Allah darinama-namanya.

c)      Mengenal sifat-sifat Allah.
1)      Memahami sifat-sifat Allah secara mendalam.
2)      Mengenal segala keagungan, keperkasaan dan keabadian Allah dengan begitu kita menyadari bahwa kita ini miskin, lemah dan kerdil.
3)      Berniat menteladani nama-nama Allah dengan keterbatasan manusia.
d)     Mengenal karya-karya Allah.
1)      Mengamati bahwa semua yang ada di alam semesta adalah hasil karya Allah.
2)      Menyadari bahwa rahmat yang diberikan kepada makhluq khususnya manusia.

e)      Mengenal kehendak Allah.
1)      Menyadari untuk apa manusia diciptakan di dunia.
2)      Menyadari apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan.
3)      Mengenali isyarat Allah dibalik suatu peristiwa.
4)      Mensyukuri nikmat Allah, bersabar dengan bencana yang diberikan oleh Allah. Dan rela terhadap takdir Allah.

f)       Ma’rifatullah secara kaffah tapi tidak mungkin mengenal Dzatnya, karna tidak dibenarkan, sebab akal pikiran tidak mampu mengetahui dzat Allah.
1)      Beriman kepada Allah dengan dasar tauhid (hanya mengesakan Allah)seperti dalam ayat Al-qur’an
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa".
Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya".
2)      Melakukan syariat Islam dengan penuh kesadaran.
3)      Berakhlaq mulai dijalan yang benar.
4)      Hati menjadi cinta, ridho dan rindu kepada Allah ingin. selalu berindah dan selalu mengingatnya.
5)      Selalu mendekatkan diri kepada Allah.
6)      Berupaya selalu hidup bersama Allah.
7)      Hidup bersih lahir dan batin.
8)      Selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
9)      Dicintai dan diridhoi Allah.[7]

Mengapa harus Asmaul Husna karena dengan mengerti dan memahami makna nama-nama Allah, itu bisa dijadikan pintu masuk menuju Ma’rifatullah.

4.      Hukum mempelajari Ma’rifatullah

Ma’rifatullah wajib bagi setiap mukmin karena mengenal Allah adalah rukun iman yang pertama, yang paling tinggi kedudukannya.

Seperti dalam Hadist Qudsi berikut:

“Kuntu khozinatan khofiyatan, ahbabtu an u’rifa, kholaqtul kholqa, fa ta’araftu ilaihim fa’arofuni.”

Artinya: Aku (Allah) pembendaharaan yang tersembunyi, aku mengehndaki untuk dikenal, aku menciptakan makhluq, maka aku memperkenalkan diriku kepada mereka, maka mereka mengenalku.”

Maksud Hadist tersebut adalah Allah menghendaki untuk dikenal. Jika insan tidak berupaya mengenal Allah, itu berarti bertentangan dengan kehendak Allah.[8]

Ma’rifatullah adalah kewajiban pertama yang ditetapkan oleh Allah atas hamba-hamba-Nya dengan firman Allah.


Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Menurut Ibnu Abbas kata “ Liya’budu “ artinya supaya mereka berma’rifat kepada-Ku.[9]

D.    KESIMPULAN

Ma’rifatullah dapat diartikan mengenal Allah. Menurut Dzun Nun Ma’rifatullah dibagi menjadi 3 macam. Pertama Ma’rifat orang awam yaitu mengenal Allah dengan 2 kalimat syahadat. Kedua Ma’rifat para ahli kalam dan filsuf yaitu mengenal Allah dengan logika. Ketiga Ma’rifat para ulama dan Muqarrabin yaitu mengenal Allah dengan sanubari. Ma’rifat yang ketiga ini baru disebut Ma’rifat hakiki dan sudah disetujui oleh para ahli sufi.

Menurut para sufi Ma’rifatullah tidak bisa dicapai menggunakan akal dan hanya bisa dicapai melalui ilham.

            Hukum mempelajari Ma’rifatullah adalah wajib karena rukun iman yang pertama adalah percaya kepada Allah.



DaftarPustaka
Haq. Zainur, Ajaran Ma’rifat, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2013)
Musnamar. Tohari, Jalan lurus menuju ma’rifatullah, (Yogyakarta, MitraPustaka, 2004)

Qusyairi. Huwaiz, Risalah Sufi al-Qusyayri, (Bandung: Pustaka, 1994)
Imam al-Ghazali, Minhajul abidin, (Jakarta: Darul Ulum Press, 2014)
Sulami. Abdirrahman, Tasawuf, (Jakarta: Erlangga, 2007)


[1] Zainur Haq, Ajaran Ma’rifat, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2013), hlm. 20
[2] TohariMusnamar, Jalan lurus menuju ma’rifatullah, (Yogyakarta, MitraPustaka, 2004), hlm. 2 
[3] Abd al-Karim ibn Huwaiz al-Qusyairi, Risalah Sufi al-Qusyayri, (Bandung: Pustaka, 1994) hlm. 312
[4] Imam al-Ghazali, Minhaju labidin, (Jakarta: Darul Ulum Press, 2014), hlm. 23-24
[5] TohariMusnamar, Jalan lurus menuju ma’rifatullah, (Yogyakarta, MitraPustaka, 2004), hlm. 51
[6] Zainur Haq, Ajaran Ma’rifat, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2013), hlm. 26
[7]TohariMusnamar, Jalanlurusmenujuma’rifatullah, (Yogyakarta, MitraPustaka, 2004), hlm 69
[8] TohariMusnamar, Jalan lurus menuju ma’rifatullah, (Yogyakarta, MitraPustaka, 2004), hlm. 6
[9] Abdirrahman al-Sulami, Tasawuf, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 36

Makalah Persimpangan Antara Tarekat dan Kebatinan



Makalah
Persimpangan Antara Tarekat dan Kebatinan
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Tarekat dan Suluk
Dosen Pengampu: Prof. Amin Syukur



 




Disusun oleh:
Kimas Rajab Pratama              (1404046053)
Husni Dzulvakor Rosyik           (1404046079)

JURUSAN TASAWUF PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016
A.    PENDAHULUAN
Dalam ajaran tasawwuf diterangkan, bahwa syari’at itu hanya peraturan belaka, tarekatlah yang merupakan perbuatan untuk melaksanakan syari’at itu, apabila syari’at dan tarekat ini sudah dapat dikuasai, maka lahirlah hakekat yang tidak lain daripada perbaikan keadaan atau ahwal, sedang tujuan yang terakhir ialah ma’rifat yaitu mengenai dan mencintai Tuhan dengan sebaik-baiknya.
Terutama di negeri kita ini pada waktu yang akhir sangat banyak kaum terpelajar mencemooh tarekat, sebaimana mereka mencemooh tasawwuf umumnya, seakan-akan suatu pekerjaan yang dibuat-buat dan tersia-sia dalam kehidupan Islam. Apakah mereka sudah mengenal tarekat atau tasawwuf itu dari dekat? Betapa besar perhatian ahli-ahli pikir Eropa terhadap tasawwuf, termasuk tarekat, karena mereka melihat dalam didikan batin ini tersembunyi kekuatan umat Islam yang tidak terhingga.
Kebatinan pun tak luput dari perhatian ahli-ahli pikir, sebenarnya sudah cukup banyak tulisan-tulisan tentang aliran kebatinan baik yang dari pihak aliran kebatinan sendiri, maupun dari pihak-pihak pengamat masalah-masalah sosial Indonesia. Aliran kebatinan sebagai perwujudan dari mistik Jawa. Walaupun sukar untuk menunjuk apa yang namanya Agama Jawa, tetapi jika sependapat dengan Clifford Geertz tentu akan menyetujui bahwa yang namanya Agama Jawa itu ada dan perwujudannya kurang lebih seperti yang digambarkan olehnya, yaitu percampurbauran unsur-unsur agama yang pernah ada di Jawa.
Jadi, pada dasarnya asas ajaran Islam ialah ke-Esaan Tuhan, tak bersekutu, tak pula tersamai atau terpadani Kemahakuasaan-Nya. Islam tak mengenal Tuhan yang berinteraksi dalam diri makhluknya, tak pula Juru Selamat; segala urusan berada pada Allah, Rabb yang Esa, dan segenap insan, ciptaan yang sekaligus hamba-Nya. Keseluruhan Risalah Tuhan terhimpun dalam al-Qur’an, sebuah kitab wahyu yang di turunkan dari masa ke masa kepada manusia Muhammad. Dengan begitu jelas semua kembali kepada-Nya.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana Tarekat dan Kebatinan itu?
2.      Bagaimana titik temu antara Tarekat dan Kebatinan?
3.      Bagaimana persimpangan antara tarekat dan kebatinan?
C.    PEMBAHASAN
1.      Pengertian Tarekat dan Kebatinan
Kata tarekat berasal dari bahasa Arab thoriqoh, jamaknya thoraiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah). Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.
Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.
Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.
Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada al-Thoriqoh al-Mu'tabarah al-Ahadiyyah, Tarekat Qadiriyah, THORIQOH NAQSYABANDIYAH, Tarekat Rifa'iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja. Bahkan di Manado ada juga Biara Nasrani yang menggunakan istilah Tarekat, seperti Tarekat SMS Joseph.[1]
Gerakan mistik dalam Islam, tumbuh dari kezuhudan dan pada tahap awalnya terwakili oleh baik lelaki maupun perempuan, baik di kota maupun di gurun.[2] Bagi setiap bangsa mistik merupakan keyakinan yang dipandang sebagai kemajuan dalam kehidupan rohani, juga sering diartikan sebagai “perjalanan” atau “hijrah”. Beberapa simbol lain, telah dipakai pula untuk menggambarkan maksud yang sama. Hal ini, merupakan gejala universal. Kaum Sufi sendiri yang bertujuan mencari Tuhan, menyebut dirinya sebagai “pengembara” (salik). Ia melakukan “pengembaraan” dengan perlahan-lahan melalui “tahapan-tahapan” (maqamat) tertentu setelah melewati “lintasan” (tariqat), guna mencapai tujuan untuk bersatu dengan kenyataan (fana fil Haq).[3]
Sebagaimana sudah diterangkan, bahwa Tarekat itu artinya jalan, petunjuk dalam melakuka suatu ibadat sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun-temurun sampai kepada guru-guru, sambung-menyambung dan rantai-berantai. Guru-guru yang memberikan petunjuk dan pimpinan ini dinamakan Mursyid yang mengajar dan memimpin muridnya sesudah mendapat ijazat dari gurunya pula sebagaimana tersebut dalam silsilahnya. Dengan demikian ahli Tasawwuf yakin, bahwa peraturan-peraturan yang tersebut dalam ilmu Syari’at dapat dikerjakan dalam pelaksanaan yang sebaik-baiknya.
Orang Islam yang tidak mengerti ilmu Tasawwuf acapkali bertanya secara mengejek, mengapa ada pula Ilmu Tarekat, apa tidak cukup ilmu fiqh itu saja dikerjakan untuk melaksanakan ajaran Islam itu. Orang yang bertanya demikian itu sebenarnya sudah melakukan ilmu tarekat, tatkala gurunya yang mengajarkan ilmu fiqh kepadanya, misalnya sembahyang, menunjuk dan membimbing dia, bagaimana cara melakukan ibadat sembahyang itu, bagaimana mengangkat tangan pada waktu takbir pembukaan, bagaimana berniat yang sah, bagaimana melakukan bacaan, bagaimana melakukan Mukti dan sujud, semuanya itu dengan sebaik-baiknya. Semua bimbingan guru itu dinamakan tarekat, secara minimum tarekat namanya, tetapi jika pelaksanaan ibadat itu berbekas kepada jiwanya, pelaksanaan itu secara maksimum hakekat namanya, sedang hasilnya sebagai tujuan terakhir daripada semua pelaksanaan ibadat itu ialah mengenal Tuhan sebaik-baiknya, yang dengan istilah Sufi ma’rifat namanya, mengenal Allah, untuk siapa persembahkan segala amal ibadat itu.
Dalam ilmu tasawwuf penjelasan ini disebut demikian: Syari’at itu merupakan peraturan, tarekat itu merupakan pelaksanaan, hakekat itu merupakan keadaan dan ma’rifat itu adalah tujuan yang terakhir. Dengan lain perkataan Sunnah harus dilakukan dengan tarekat,tidak cukup hanya keterangan Nabi saja, jikalau tidak dilihat pekerjaannya dan cara melakukannya, yang melihat itu adalah sahabat-sahabatnya, yang menceritakan kembali kepada murid-muridnya, yaitu tabi’in, yang menceritakan pula kepada pengikutnya, yaitu tabi-tabi’in dan selanjutnya.[4]
Ilmu kebatatinan adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana mengubah batin agar lebih dekat dengan Tuhan dan mendapatkan ketenangan diri untk membangkitkan hal positif dalam diri manusia. Tujuan utama dari ilmu ini adalah untuk menguatkan iman terhadap Tuhan agar lebih meyakini kehadiran Tuhan dalam menjadi tuntunan kehidupan. Perkembangan ilmu kebatinan sangat pesat, hal ini dibuktikan berbagai kalangan yang terkadang memberikan berbagai pengobatan berdasarkan kekuatan batin ini. Tidak banyak yang salah mengartikan ilmu ini sebagai sesuatu yang salah mengartikan ilmu ini sebagai sesuatu yang negatif.
Sedangkan aliran kebatianan yaitu semacam agama orang jawa yang bersifat mistis selain agama-agama yang diakui oleh pemerintah. Hal tersebut juga disamakan dengan kepercayaan masyarakat setempat yang sudah diakui oleh pemerintah.[5]



2.      Titik Temu Tarekat dan Kebatinan
Pada dasarnya baik Tarekat maupun Kebatinan sama-sama mempunyai tujuan yang sama yaitu mencapai derajat yang tinggi disisi Tuhan, akan tetapi tampak berbeda didalam praktek-praktek latihan kejiwaan. Tahapan-tahapan yang dilalui secara garis besar terdapat kesamaan, dimana masing-masing memiliki aspek penyucian jiwa dan konsentrasi hanya kepada Tuhan. Penghindaran atau pengambilan jarak dari dunia materi pada Tarekat dilakukan dengan zuhud dan uzlah, adapun zuhud ini dilakukan dengan berpakaian,makan minum yang sederhana. Sedangkan kebatinan dilakukan dengan puasa, mengurangi makan dan tidur. Dengan demikian perwujudan distansi itu berbeda, tetapi tujuan yang dicapai sama yaitu penyucian batin dengan cara melemahkan jasmani, karena jasmani merupakan saluran-saluran nafsu. [6]
Antara Tarekat dan Kebatinan juga mempunyai tujuan dan metode yang sama, tujuan Tarekat adalah untuk mencapai ma’rifat ataupun insan kamil dengan berusaha melatih diri (riyadhah) serta berjuang (mujahadah) melepaskan diri dari belenggu hawa nafsu dan sifat kebendaan yang merupakan hijab antara hamba dan Tuhan. Dengan metode adalah sistem pendidikan tiga tingkat, yaitu Tahalli, Takhalli, Tajalli. Sedangkan Kebatinan mempunyai tujuan manunggaling kawulo gusti, jumbuhing kawulo gusti... Kondisi persatuan manusia dengan Tuhan... Curiga manjing ing rangka, raka manjing ing curiga (keris yg bersatu dengan rangkanya). Serta metodenya adalah dengan latihan-latihan kerohanian atau juga dengan olah rasa dengan melalui manembah, sujud, meditasi, tapa dan lain-lain.
Titik temu yang lain antara Tarekat dan Kebatinan ialah sama-sama mempunyai guru atau sang pembawa ajaran, dalam Tarekat ada Mursyid dan di Kebatinan ada “Leluhur”. Dalam kepercayaan Kejawen Klasik, apa yang disebut “Leluhur” itu adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat luhur pada masa hidupnya, dan setelah meninggal mereka masih senantiasa dihubungi oleh orang-orang yang masih hidup dengan cara melakukan upacara adat.[7] Titik temu selanjutnya adalah Sama-sama adanya pusat kegiatan, Mengajarkan moral / akhlak (tujuan), Pengalaman (terdapat pengalaman ‘persatuan’ dengan Tuhan).
3.      Persimpangan Antara Tasawuf dan Kebatinan
Pergumulan Islam (Tarekat) dengan mistik Jawa (Kebatinan) Nampak terlihat jelas dari perkembangan sikap hidup keagamaan orang Jawa. Munculnya aliran-aliran kebatinan merupakan wujud dari pengolahan Jawa atas mistik Islam. Ajaran Islam yang memperkenalkan konsep tentang keTuhanan-Nya melalui ajaran tasawufnya, telah diadopsi di dalam berbagai aspek kehidupan orang Jawa.
Banyak masyarakat Islam yang keliru dalam mengartikan apa itu aliran kebatinan, hal itu terutama disebabkan oleh karena mereka itu tidak mengenal Hakikat Kebatinan dan kurang sekali mengetahui Sejarah Jawa.  Orang-orang Kebatinan yang dulu maupun yang sekarang sama sekali tidak berpegang teguh kepada wejangan-wejangan Walisongo. Kebatinan adalah produk asli dari masyarakat pribumi Jawa. Buku-buku yang berisi wejangan-wejangan Walisongo, yang antara lain telah didisertasikan oleh Prof. Schrieke dengan judul; Het van Bonang itu adalah justru akal bulus dari Dinasti Demak untuk mentransformasikan ajaran-ajaran Kebatinan kedalam faham Islam.[8]
Bermunculannya aliran-aliran Kebatinan itu adalah dan memanglah kenyataan sosial-kulturil, yang telah berproses mengikuti hukum sejarah kebudayaan dan tidak mungkin dapat dibendung.[9] Tarekat dan Kebatinan mempercayai adanya Sang Pencipta. Dalam Tarekat mereka menyebutkan Allah sedangkan Kebatinan hanya menyebutkan Tuhan. Persimpangan yang lain adalah dalam Tarekat apabila ada seseorang yang masuk mengikuti ajaran Tarekat tersebut maka harus di baiat terlebih dahulu. Berbeda dengan Kebatinan yang tak perlu adanya pembaiatan tersebut.
Orang-orang yang mengikuti ajaran Tarekat sangat berpegang teguh kepada Syari’at serta Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan Kebatinan lebih menekankan renungan hati. Akan tetapi terlepas dari semua pendapat yang ada dimasyarakat tentang Tarekat dan Kebatinan intinya kedua ajaran tersebut sama-sama mengajarkan moral atau akhlaq yang baik kepada setiap pengikutnya. Serta sama-sama mengakui adanya Tuhan.


















D.    Kesimpulan
Tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah. tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.
Sedangkan aliran kebatianan yaitu semacam agama orang jawa yang bersifat mistis selain agama-agama yang diakui oleh pemerintah. Ilmu kebatatinan adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana mengubah batin agar lebih dekat dengan Tuhan dan mendapatkan ketenangan diri untk membangkitkan hal positif dalam diri manusia.
Titik temu dan persimpangan
TITIK TEMU
PERSIMPANGAN
·         Keyakinan (Tuhan Yang Maha Esa)
·         Pengalaman (terdapat pengalaman ‘persatuan’ dengan Tuhan )
·         Laku
·         Guru sang pembawa ajaran
·         Mengajarkan moral / akhlak (tujuan)
·         Sama-sama adanya pusat kegiatan
·         Mempunyai dasar yang sama
·         Zuhud, asketik, laku ada pada kedua pola mistik Islam dan Jawa ini.
·         Tarekat : Allah, Kebatinan : Tuhan
·         Tarekat : Baiat, Kebatinan : tidak ada
·         Tarekat : Syari’at, Keatinan : renungan (hati)
·         Tarekat : dasarnya Al-qur’an dan Sunnah,
·         Kebatinan : tergantung alirannya, sinkritis (non Al-qur’an)
·         Kebatinan : kedikjayaan


DAFTAR PUSTAKA
A.Nicholson, Reynold, Mistik Dalam Islam, Jakarta: BUMI AKSARA, 1998.
Aceh, Abubakar, Pengantar Ilmu Tarekat, Solo: Ramadhani, 1996.
A.J. Arberry, Pasang-Surut Aliran Tasawuf, Bandung: MIZAN, 1985.
Romdon, Tashawuf Dan Aliran Kebatinan, Yogyakarta: LESFI, 1993.
Sofwan, Ridin,  Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan, Semarang: CV. Aneka Ilmu, 1999.
Damami, Muhammad, Makna Agama Dalam Masyarakat Jawa, Yogyakarta: Lefsi, 2002
Warsito S. dkk, Disekitar Kebatinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.


[1] Di kutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat, pada hari kamis tanggal 10 Maret 2016
[2] A.J. Arberry, Pasang-Surut ALIRAN TASAWUF, (Bandung: MIZAN, 1985), hlm. 107
[3] Reynold A. Nicholson, Mistik Dalam Islam, (Jakarta: BUMI AKSARA, 1998), hlm. 22
[4] Abubakar Aceh, PENGANTAR ILMU TAREKAT, (Solo: Ramadhani, 1996), hlm. 6-7
[5] Romdon, TASHAWUF dan ALIRAN KEBATINAN, (Yogyakarta: LESFI, 1993), hlm. 77
[6] Ridin Sofwan, Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan, (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 1999), hlm. 106-110.
[7] Muhammad Damami, Makna Agama dalam Masyarakat Jawa, (Yogyakarta: Lefsi, 2002), hlm. 59.
[8] Warsito S. dkk, Disekitar Kebatinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 12.
[9] Warsito S. dkk, Disekitar Kebatinan, hlm. 41.