Wedus Arab Bukan Wedus Biasa

MASA PRA SOCKRATES



A.    LATAR BELAKANG
Seperti yang di jelaskan oleh kelompok pertama, pada hari jumat tanggal 27 Maret 2015. Bahwasanya Filsafat muncul karena ke kritisan orang Yunani yang tak lagi percaya begitu saja dengan mitos-mitos yang berkembang saat itu. Orang yang mula-mula sekali menggunakan akal secara serius adalah orang Yunani yang bernama Thales (624-546 SM). Dialah yang digelari Bapak Filsafat. Gelar itu di nobatkan padanya karena pertanyaannya yang sangat luar biasa, yaitu: Apakah sebenarnya bahan alam semesta ini? Ia senderi menjawabnya: air. Setelah itu silih berganti filosof sezamannya dan sesudahnya. Seperti Anaximandros (610-546 SM), murid dari Thales yang mengkritik teori dari gurunya. Semakin lama persoalan yang dipikirkan oleh manusia semakin luas, dan semakin rumit pula pemecahannya.
Buah pikiran – yaitu hasil kerja akal – yang mulai mengagetkan manusia awam barangkali pertama kali dilontarkan oleh Heraclitus (535-475 SM), tatkala ia berkata bahwa segalanya yang ada akan berubah, indera kitalah yang tertipu atau yang menipu. Muncul-lah Parmanides yang dikenal sebagai logikawan dalam filsafat, yang terkenal dengan pemikirannya (Being dan Aletheia). Empedocles (490-435 SM) setuju dengan Parmanides tentang alam ini, bahwa segala sesuatu tidak dapat berubah. Namun, ia tak setuju bahwa presepsi indera kita tidak dapat di percaya, namun sebaliknya. Demokritos (460-370 SM) filsafat pertama yang beranggapan, bahwa asas tertinggi manusia adalah etika. Cerita singkat di atas telah memperlihatkan bahwa karya akal memang cukup hebat. Keadaan itu di buat semakin ramai oleh kemunculan Zeno (490-an SM), yang di perkirakan ia yang menandai kemunculan pemikiran sofisme. Ia berhasil membuktikan ruang kosong itu tidak ada, pluralitas (jamak) tidak ada, gerak tidak ada. Jadi, semua yang mapan dalam pandangan orang awam menjadi goyah. Inilah salah satu karya yang hebat itu: kebimbangan. Kaum sofis menjadikan manusia sebagai pusat pemikirannya.[1]










B.     TOKOH PRA-SOCRATES
a.       Thales (625-545 SM)
Dia seorang filsuf Yunani Kuno (625-545 SM), berasal dari Miletos (pantai barat Asia Kecil/Turki). Thales berprofesi sebagai saudagar, profesi yang membuatnya sering berpergiaan. Selain Filsuf, Thales juga menguasai ilmu Geometri, Astronomi, dan Politik. Bersama dengan Anaximandros dan Anaximenes mereka di golongkan sebagai Madzhab Miletos. Pemikiran Thales yang sangat terkenal adalah “Air adalah prinsip dasar segala sesuatu”. Menurut Aristoteles, bahwa Thales filsuf pertama yang memikirkan asal mula terjadinya alam semesta.
b.      Anaximandros (610-546 SM)
Sama seperti Thales (Gurunya), Anaximandros bermadzhab Miletos. Karyanya terbesar adalah Ia berhasil membuat Peta Bumi yang pertama kali. Anaximandros juga ahli dalam Astronomi dan Geografi. Pemikiran Anaximandros, meskipun dia murid Thales, justru dia tidak membenarkan pendapat dari Thales bahwa “Air adalah prinsip dasar segala sesuatu”. Dia berpendapat bahwa prinsip segala sesuatu adalah “To Aperion”.
c.       Heraclitus (535-475 SM)
Lahir di Ephesus sebuah kota perantauaan di Asia Kecil. Heraclitus mendapat julukan sebagai “Si Gelap dari Yunani Kuno.” Pemikirannya yang terkenal adalah bahwa segala yang ada akan berubah, ia mempercayai Arche (asas yang pertama dari alam semesta) adalah “Api”. Dia menganut paham Relatisfme.
d.      Parmenides (540-475 SM)
Lahir di kota Elia, kota perantau Yunani di Italia Selatan. Ia menganut ajaran Phytagoras. Inti dari pamikirannya adalah “Jalan kebenaran dan jalan pendapat” (Being dan Aletheia).
e.       Empedocles (490-435 SM)
Lahir di Akragos, pulau kecil di Sicilia. Dia sangat di pengaruhi ajaran phytagoras, permenides, dan aliran keagamaan refisme. Ia pandai dalam Kedokteran, Penyair Retorika, Politik, dan Pemikir. Ia menulis karyanya dalam bentuk puisi seperti Parmenides. Empedocles sependapat dengan Parmenides, bahwa alam semesta di dalamnya tidak ada hal yang di lahirkan secara baru, dan tidak ada hal yang hilang. Ia setuju dengan konsep ruang kosong, akan tetapi ia mempertahankan adanya pluralitas dan perubahan dari hasil pengamatan indera.
f.       Demokritos (460-370 SM)
Lahir di kota Abdera, di pesisir Thrake Yunani Utara. Ia termasuk filsuf yang bermadzhab Atomisme. Demokritos dikenal sebagai sarjana yang menguasai segala bidang, karena Ia menulis berbagai karya tulis seperti Ilmu Alam, Astronomi, Matematika, Sastra, Epistimologi, dan Etika. Ada 300 kutipan tentang pemikiran Demokritos di dalam sumber-sumber kuno, sebagian besar kutipannya tersebut tentang etika. Sayang, semua karya-karya Demokritos tidak ada yang tersimpan.[2]
g.      Sofisme
Sofis adalah nama yang diberikan kepada sekelompok filsuf yang hidup dan berkarya pada zaman yang sama dengan Sokrates. Mereka muncul pada pertengahan hingga akhir abad ke-5 SM. Meskipun sezaman, kaum sofis di pandang sebagai penutup era filsafat pra-sokratik sebab Sokrates akan membawa perubahan besar di dalam filsafat Yunani. Golongan sofis bukanlah suatu mazhab tersendiri, sebab para filsuf yang digolongkan sebagai sofis tidak memiliki ajaran bersama ataupun organisasi tertentu. Karena itu, sofisme dipandang sebagai suatu gerakan dalam bidang intelektual di Yunani saat itu yang disebabkan oleh beberapa faktor yang timbul saat itu.[3]
Kaum sofis menjadikan manusia sebagai pusat pemikirannya. Singkat cerita, setelah perang melawan Persia usai (449-an SM), kehidupan social-politik dan ekonomi orang Yunani berjalan lancar. Begitupun dengan pengetahuaannya, akhirnya mereka menganggap bahwa belajar itu sangat penting, dengan adanya ideology semacam itu muncul-lah orang-orang yang mengajarkan ilmu pengetahuaan, mereka mengajar bukan semata-mata mengajar saja, namun mereka mendapat imbalan dari apa yang mereka ajarkan. Hal ini membuat kaum sofis menjadi jelek, tuduhan dari masyarakat adalah menganggap mereka meminta sumbangan dengan apa yang mereka ajarakan. Akan tetapi kini ada usaha menilai kaum sofis secara positif di antaranya:
1.      Kaum sofis menjadikan manusia sebagai pusat pemikiran filsafatnya. Tidak hanya itu, bahkan pemikiran manusia itu sendiri dijadikan tema filsafat mereka. Contohnya: Pandangan Prodikos tentang dewa-dewi sebagai proyeksi pemikiran manusia, atau pandangan Protagoras tentang proses pemikiran untuk mengenali sesuatu.
2.      Kaum sofis merupakan pionir dalam hal pentingnya bahasa di dalam filsafat. Hal itu terlihat dari berkembangnya retorika dan juga pentingnya pemakaian kata yang tepat. Selain itu, kaum sofis juga menciptakan gaya bahasa baru untuk prosa Yunani Sejarawan-sejarawan Yunani yang besar seperti Herodotus danThukydides, amat dipengaruhi oleh mereka. Kemudian etika kaum sofis juga memengaruhi dramawan-dramawan tersohor seperti Sophokles dan Euripides.
3.      Kaum sofis memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Karena itu, secara tidak langsung, kaum sofis memberikan sumbangan besar terhadap filsafat zaman klasik dengan tiga filsuf utama tersebut.[4]

C.     Pemikiran Tokoh Filsuf pra-Socrates
a.       Thales (625-545 SM)
Description: thales
Menurut Thales  azas-pemula adalah air, yang dalam sifatnya yang bergerak-gerak merupakan azas kehidupan segala sesuatu: bukanlah segala sesuatu hidup, seperti yang barangkali dimaksudkan oleh ungkapan: “Segala sesuatu penuh dengan dewa-dewa”. Pemikiran Thales dikelompokan menjadi empat:
1.      Air Sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu
Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Karena air adalah sumber kehidupan, dan tanpa air makhluk hidup pasti akan mati. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang.[5]
2.      Pandangan Tentang Jiwa
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam  hidup, tetapi juga benda mati. Teori tentang materi berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan besi.
3.      Theorima Thales
·         Lingkaran dibagi dua oleh garis yang melalui pusatnya yang disebut dengan diameter.
·         Besarnya sudut-sudut alas segitiga sama kaki adalah sama besar.
·         Sudut-sudut vertical yang terbentuk dari dua garis sejajar yang dipotong oleh sebuah garis lurus menyilang, sama besarnya.
·         Apabila sepasang sisinya, sepasang sudut yang terletak pada sisi itu dan sepasang sudut yang terletak di hadapan sisi itu sama besarnya, maka kedua segitiga itu dikatakan sama sebangun.
·         Segitiga dengan alas diketahui dan sudut tertentu dapat digunakan untuk mengukur jarak kapal.[6]

4.      Pandangan Politik
Thales menyarankan bahwa untuk mempertahankan Negara dari ancaman serangan oleh Negara lain yaitu dengan membentuk pusat pemerintahan dan administrasi bersama  di kota yang memiliki posisi sentral di Negara tersebut.[7]
b.      Anaximandros (610-546 SM)
Description: Anaximandros
Meskipun Anaximandros merupakan murid Thales, namun ia menjadi terkenal justru karena mengkritik pandangan gurunya mengenai air sebagai prinsip dasar (arche) segala sesuatu. Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, maka seharusnya air terdapat di dalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat yang berlawanan dengannya. Namun kenyataannya, air dan api saling berlawanan sehingga air bukanlah zat yang ada di dalam segala sesuatu. Karena itu, Anaximandros berpendapat bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut dari zat yang empiris. Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang lebih mendalam dan tidak dapat diamati oleh panca indera. Anaximandros mengatakan bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron.[8] Pemikirannya Anaximandros:
1.      To Apeiron Sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu
To apeiron berasal dari bahasa Yunani a=tidak dan eras=batas. Ia merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala sesuatu. Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang kering dan yang basah, malam dan terang). Kemudian kepada prinsip ini juga semua pada akhirnya akan kembali.[9]

2.      Tentang Alam Semesta
to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula. Pecahan-pecahan tersebut berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada pada pusat jagad raya, dengan jarak yang sama dengan semua benda lain.

3.      Tentang Makhluk Hidup
Mengenai terjadinya makhluk hidup di bumi, Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya bumi diliputi air semata-mata. Karena itu, makhluk hidup pertama yang ada di bumi adalah manusia. Karena panas yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan. Di itulah, mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai berkembang di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan asuhan orang lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk pertama yang naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di daratan dan kemudian menjadi manusia.

4.      Bidang Astronomi
Tulisan yang paling menakjubkan dari Anaximander adalah pemikirannya mengenai alam, posisi bintang, penelitian geometri, peta Yunani maupun peta dunia. Dan karyanya yang terpenting adalah pengenalan prinsip matematika dan ilmiah dalam studi astronomi maupun geografi.

5.      Bidang Meteorologi
Anaximander menyatakan bahwa petir bukanlah disebabkan oleh Zeus sang raja para dewa yang mengarahkan trisulanya atau tongkat petirnya, tapi karena pneuma atau udara yang memadat. Selain itu, Anaximander juga menjelaskan bahwa hujan berasal dari uap yang dibawa ke atas tepat dibawah matahari. Bukan karena hal-hal yang berhubungan dengan mitologi dan kekuatan dewa. Namun memang ada sebab dan prosesnya, dan semua itu juga terjadi secara natural.Tulisan Anaximander mengenai cuaca dan bidang meteorology ini merupakan catatan pertama manusia yang menjelaskan fenomena cuaca berdasarkan pemikiran rasinonal manusia bukan dari legenda taupun mitos.

6.      Penemuan Lainnya
Penemuan Anaximander yang lain adalah jam matahari. Jam ini dapat menentukan teangah hari, atau titik bayangan terendah dan juga sebagai arah mata angin. Semua karya Anaximander ditulis berdasarkan prinsip ilmiah dan rasional, bukan sekedar mitos. Sebagai seorang yang rasionalis, Anaximander menuliskan penelitiannnya berdasarkan penghitungan geometri dan matematika.[10]



c.       Heraclitu
Description: Biografi Heraclitus: Si Gelap dari Yunani Kuno
Menurut heraclitus alam semesta ini dalam keadaan berubah, suatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. itu berarati bila kita memahami kehidupan kosmos, kita mesti menyadari bahwa kosmos itu dinamis kosmos tidak pernah berhenti ia selalu bergerak dan bergerak berarti berubah, gerak itu menghasilkan perlawanan 2 itulah semesta ini bukan bahan (stuff)-nya seperti yang dipertanyakasn “semua mengalir” berarti semua berubah bukanlah pernyataan yang mengandung sederhana. implikasi pernyataan ini amat hebat hebat. Pernyataan itu mengandung penertian bahwa kebenaran itu selalu berubah, tidak tetap.[11]

d.      Parmenindes
Description: Biografi Parmenides: Hakikat Ada (Being)
Inti Utama dari Pemikiran Parmenides ada 2 Yakni Jalan Kebenaran dan Jalan Pendapat.
1.      Jalan Kebenaran
Inti utama dari "Jalan Kebenaran" adalah keyakinan bahwa "hanya 'yang ada' itu ada". Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud "yang ada", namun menyebutkan sifat-sifatnya. Menurut Parmenides, "yang ada" itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan. Selain itu, "yang ada" itu juga tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal. Menurut Parmenides, "yang ada" adalah kebenaran yang tidak mungkin disangkal. Bila ada yang menyangkalnya, maka ia akan jatuh pada kontradiksi.

2.      Jalan Pendapat
Buah pemikirannya yang kedua adalah jalan pendapat. Parmenides mengajarkan konsep doxa (pendapat umum) dan aletheia (kebenaran). Doxa adalah kebiasaan dan pandangan umum yang kita dengar dan dapatkan dengan begitu saja. Dia menghendaki agar kita tidak jatuh pada doxa. Sebaliknya, Parmenides mengajak agar kita berpegang pada aletheia yang menyandarkan diri pada akal budi semata. Dalam bersikap, dia mengajarkan agar kita berpikir sendiri dan menemukan kebenaran itu sendiri. Kita tidak boleh percaya pada gagasan-gagasan umum yang kebenarannya tidak pasti. Lebih tegas lagi, dia menyatakan kita tidak boleh percaya pada “lidah dan telinga”. Parmenides menyatakan kebenaran hanya dapat diperoleh melalui akal budi semata. Dengan akal budi hendaklah kita menjadi penguji dan hakim segala sesuatu. Dengan akal budi, kita dapat memperoleh pengetahuan yang murni dan sejati. Pengetahuan ini mampu menangkap “yang ada”, yang bersifat tetap, dan tidak berubah di balik pengetahuan indera yang menipu. Parmenides mengajarkan pentingnya berpikir dan mengambil sikap tegas yang mandiri terhadap apa yang diyakini oleh umum. Pemikiran dan sikap demikian menunjukkan bahwa keyakinan umum tidak selalu benar. Oleh karena itu, kita harus melihat realitas dengan menggunakan akal budi secara langsung. Pemikiran Parmenides membuka babak baru dalam sejarah filsafat Yunani. Dapat dikatakan, dialah penemu merafisika, cabang filsafat yang menyelidiki “yang ada”. Filsafat di masa selanjutnya akan bergumul dengan masalah-masalah yang dikemukakan Parmenides, yakni bagaimana pemikiran atau rasio dicocokkan dengan data-data inderawi. Plato dan Aristeteles adalah filsuf-filsuf yang memberikan pemecahan untuk masalah-masalah tersebut.[12]
e.       Empedoclotes
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkDJ6Rn8RA5kVYaOFhHPA5bS72Zf00h4e4ZwnXYXP4RGPmb1FDXdVHt5pPD6KjIKH5J8ULqD0wS-2_OKQYMufqxOB8jONc4IS9AOKhaYndEIRhGC2MsmQbMCFyZvyHOqyBTl9fe2po3_s/s320/empedocles.jpg
      Dalam pemikirannya dia sependapat dengan Permenides, bahwa alam semesta tak ada satupun yang dilahirkan sebagai hal yang baru dan dapat di binasakan sehingga tiada lagi. Dia juga setuju dengan tak ada ruang kosong. Tetapi, ia menentang kesaksiaan indera adalah palsu. Memang pengamatan indera menunjukan hal yang jamak, yang berubah, tetapi bentuk kenyataan yang bermacam-macam itu hanya disebabkan karena penggabungan dan pemisahan keempat anasir (rizomoto) yang menyusun segala kenyataan. Keempat anasir itu adalah: air, udara, api, dan tanah. Semuanya mempunyai kualitas yang sama, yaitu tidak berubah ubah segala yang ada di keempat anasir itu. Perbedaan benda-benda disebabkan karena campuran atau penggabungan keempat anasir itu berbeda-beda, missal: tulang terdiri dari 2 bagian anasir tanah, 2 bagian anasir air, dan 4 bagian anasir api, demikiaan seterusnya.
      Proses penggabungan dan pemisahan anasir itu diatur oleh kekuatan yang saling berlawanan, yaitu cinta (filotes) dan benci (neikos), cinta menggabungkan, sedang benci menceraikan keempat tersebut.[13] sehingga muncul pengelompokan 4 zaman Empedokles yang berlangsung terus-menerus, silih berganti, dan kembali lagi kepada yang pertama, tiada henti-hentinya:
1.      Zaman dimana cinta yang dominan. Alam semesta bagaikan bola, yang semua anasirnya tercampur secara sempurna dan benci tersisih ke ujung
2.      Zaman yang mana anasir-anasir tercampur sempurna, mulai diceraikan, sehingga sebagian mulai dikuasai benci
3.      Zaman cerainya empat anasir secara sempurna, sehingga benci dominan
4.      Zaman yang dimana cintai mulai meresap dalam kosmos. Zaman ini sejajar dengan yang kedua, yang diakhiri dominan cinta. Tetapi, proses ini belum selesai. Kembalilah zaman yang pertama di mulai dan seterusnya.
Dalam perkembangannya sehingga muncul teori pengenalan: yang sama mengenal yang sama, karena anasir tanah yang ada pada manusia itulah manusia mengenal tanah, air, dan sebagainya.[14]

f.       Demokritos
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPDUs_QNkrwYFaukJjiAKSktafKO-E5j9PeZ8oQIdFTveKewBuj6edpeAm430oEUNcP4Q5OFbtIJ7SG50FzGufADrNWKhWFnRTWrBJNOxKb-64TWkH2mRE2V7cmAqQOS8MxWSi2dsxK5k/s320/Democritus_by_Agostino_Carracci.jpg
Democritus yang lahir di Abdera adalah seorang filsuf Yunani yang mengembangkan teori mengenai atom sebagai dasar materi. Karyanya dijadikan sebagai pelopor ilmu fisika materi yang menutup kemungkinan adanya intervensi Tuhan atau Dewa. Dalam bidang Astronomi dia juga orang pertama yang menyatakan pendapat bahwa galaxi Bima Sakti adalah kumpulan cahaya, gugusan bintang yang letaknya saling berjauhan.[15] Hasil pemikiran Demokritos di bedakan menjadi:
1.      Tentang Atom
Demokritos berpendapat bahwa atom adalah unsur-unsur yang membentuk realitas. Nama atom berasal dari bahasa Yunani atomos: a berarti “tidak” dan tomos berarti “terbagi”. Atom-atom tersebut merupakan unsur-unsur terkecil yang membentuk realitas. Ukurannya begitu kecil sehingga mata manusia tidak dapat melihatnya. Selain itu, atom juga tidak memiliki kualitas, seperti panas atau manis.

2.      Tentang Dunia
Dunia tercipta karena atom-atom yang berbedabentuk saling mengait satu sama lain. Atom-atom yang berkaitan itu kemudiaan mulai bergerak berputar, dan semakin lama makin banyak atom yang ikut ambil bagiaan dari gerak tersebut. Kumpulan atom yang lebih besar tinggal di pusat gerak tersebut sedangkan kumpulan atom yang lebih halus dilontarkan ke ujungnya. Demikiaanlah dunia tersebut.

3.      Tentang Manusia
Bahwa manusia juga terdiri dari atom-atom. Jiwa manusia di gambarkan sebagai atom-atom halus. Atom-atom ini di gerakkan oleh gambaran-gambaran kecil atas suatu benda yang di sebut eidola. Dengan demikian muncul kesan-kesan indrawi atas benda-benda tersebut.

4.      Tentang Pengenalan
Setiap benda yang tersusun atas atom-atom mengeluarkan gambaran-gambaran kecil yang disebut eidola. Gambaran-gambaran inilah yang masuk ke panca indera manusia dan disalurkan ke jiwa. Manusia dapat melihat karena gambaran kecil tersebut bersentuhan dengan atom-atom jiwa. Proses semacam ini berlaku bagi semua jenis pengenalan indrawi lainnya.

5.      Tentang Etika
Nilai tertinggi di dalam hidup manusia adalah keadaan batin yang sempurna (euthymia). Hal itu dapat di capai apabila manusia menyeimbangkan semua factor di dalam kehidupan: kesenangan dan kesusahan, kenikmatan dan pantangan. Yang bertugas menyeimbangkan ini adalah rasio. Dengan demikiaan asas tindakan manusia adalah keseimbangan.[16]








D.    Perbandingan Pemikiran Tokoh-Tokoh pra-Socrates
·         Tentang Asal-Usul Segala Hal
Thales berpendapat bahwa asal-usul segala sesuatu adalah air. Karena air adalah bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup.
Anaximandros berpendapat bahwa asal-usul segala sesuatu adalah to Aperion . Karena Ia merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala sesuatu.
Heraclitus berpendapat bahwa asal-usul segala sesuatu adalah segala sesuatu itu (menjadi) berubah.
Parminendes berpendapat bahwa asal-usul segala sesuatu adalah alam semesta tiada satu pun yang di lahirkan sebagai hal yang baru dan dapat di binasakan sehingga tiada lagi.
 Empedoclotes berpendapat bahwa asal-usul segala sesuatu adalah sama seperti pendapat Parminendes, namun ia menambahkan bahwa kesaksiaan indera adalah palsu.
Democritos berpendapat bahwa asal usul segala sesuatu adalah atom. Karena atom adalah unsure-unsur yang membentuk realitas.
E.     Kesimpulan
Thales adalah ahli filsafat pertama yang hidup  pada abad ke-6 sebelum masehi. Pandangan Thales merupakan cara berpikir yang sangat tinggi, karena sebelumnya, orang-orang Yunani lebih banyak mengambil jawaban-jawaban tentang alam dengan kepercayaan dan mitos-mitos yang dipenuhi dengan ketakhayulan. Thales telah membuka alam pikiran dan keyakinan tentang alam dan asal muasalnya tanpa menunggu dalil-dalil yang agamis. Karena Thales-lah banyak bermunculan tokoh-tokoh filsuf yang mengemukakan pendapat mereka berdasarkan akal dan pemikirannya, tanpa langsung percaya dengan mitos-mitos yang beredar pada waktu itu. Thales dikenal sebagai Bapak Filsuf pertama.
Dengan argument dari Thales tentang asal-usul segala hal yang ada di dunia ini, akhirnya mengembangkan pemikiran tokoh-tokoh filsuf yang lainnya, seperti Anaximandros yang terkenal dengan teori to Apeironnya, Heraclitus dengan pendapatnya bahwa hal yang ada di dunia ini selalu berubah tak menetap, Parminendes bahwa alam semesta tak ada satu pun yang di ciptakan sebagai hal yang baru, Empedoclotes yang setuju dengan pendapat Heraclitus dan berargumen bahwa kesaksiaan indera adalah palsu, dan Democratos yang berpendapat bahwa segala sesuatu itu bersal dari atom.

F.      Penutup
Saran dan kritik
·         Kerjakan jauh-jauh hari sebelum pengumpulan dan kerjakan secara bertahap.
·         Rjin mencari referensi baik buku maupun internet agar makalah yang di buat mencapai 90% sempurna.
·         Diskusikan dengan teman-teman bila mempunyai kendala dalam mengerjakan makalah.
·         Mohon kritik dan saran yang membangun bagi makalah ini, karena makalah ini jauh dari kata sempurna. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Daftar Pustaka
Prof. Dr. Tafsir, Ahmad, 2003. Filsafat Umum, Cet.XI. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Soemargono, Soejono, 1992. Sejarah Ringkas Filsafat Barat . Jogjakarta: PT. Tiara Wacana Yogya

https://books.google.co.id/books?id =sejarah+filsafat+yunani+kaum+sofisme, di akses pada 29 Maret 2015 Pukul 09:28 wib.

Prof. Dr. Wiramihardja, Sutardjo, 2007. Pengantar Filsafat, Cet.II. Bandung: PT. Refika Aditama

http://www.the famous people.com/profiles/Hiales.263php

www.thebigview.com/greeks/anaximander.html, di akses pada Kamis,19 Maret 2015 pukul 01:09 wib


Schlick, Moristz, 2001. Filsafat Alam . Yogyakarta: Pustaka Pelajar


[1] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya)hlm.1
[2] Soejono Soemargono,  Sejarah Ringkas Filsafat Barat (Jogjakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1992)hlm.3-7
[3] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya)hlm.1-2
[4]https://books.google.co.id/books?id =sejarah+filsafat+yunani+kaum+sofisme, di akses pada 29 Maret 2015 Pukul 09:28 wib.
[5]Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi., Pengantar Filsafat (Bandung: PT. Refika Aditama)hlm.46

[6] http://www.the famous people.com/profiles/Hiales.263php
[7] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya)hlm.48
[8] Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi., Pengantar Filsafat (Bandung: PT. Refika Aditama)hlm.46
[9] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya)hlm.48
[10] www.thebigview.com/greeks/anaximander.html, di akses pada Kamis,19 Maret 2015 pukul 01:09 wib
[11] Soejono Soemargono,  Sejarah Ringkas Filsafat Barat (Jogjakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1992)hlm.6
[12] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya)hlm.49-50
[13] Soejono Soemargono,  Sejarah Ringkas Filsafat Barat (Jogjakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1992)hlm.9
[15] Soejono Soemargono,  Sejarah Ringkas Filsafat Barat (Jogjakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1992)hlm.10-11
[16] Moristz Schlick, Filsafat Alam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)hlm.121-128

0 komentar:

Posting Komentar